3.1.j.
KONEKSI ANTAR MATERI - MODUL 3.1
Pengambilan Keputusan
Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin
Perkenalkan saya Maisa Sri Wati, S.Pd., calon Guru Peggerak
Angkatan 11 tahun 2024 dari SDN 39 Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi
Kalimantan Barat. Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi informasi tentang
Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Seorang Pemimpin dalam bentuk kesimpulan yang
saya buat pada tahap Koneksi Antar Materi di modul 3.1. Kesimpulan ini
dibuat berdasarkan panduan pertanyaan yang ada di LMS.
1.
Bagaimana filosofi Ki Hajar
Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan
keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar
Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang guru
mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sebagai pemimpin
dalam mengambil keputusan, seharusnya seorang guru itu:
a.
memberikan
teladan dan contoh akan keputusan yang bijak,menjadi teladan yang patut ditiru
(Ing Ngarso Sung Tulodo).
b.
Mampu
memberdayakan dan membangun kerukunan, menyemangati, membuat orang lain
memiliki kekuatan demi memperbaiki kualitas diri mereka (Ing Madya Mangun
Karsa)
c.
mampu
mempengaruhi dan mendorong semangat meningkatkan kualits agara selalu menjadi
lebih baik (Tut Wuri Handayani)
Pratap Triloka mengajarkan kita bahwa pengambilan
keputusan yang efektif tidak hanya melibatkan aspek kognitif (pemikiran
rasional), akan tetapi juga melibatkan aspek emosional dan sosial. Dengan
menerapkan prinsip-prinsip Pratap Triloka, maka seorang pemimpin akan mampu
membangun sebuah tim yang solid untuk mencapai tujuan organisasi, serta
memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam
diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan
suatu keputusan?
Guru
sebagai seorang pendidik harus memiliki nilai-nilai positif yang mampu
menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid, seperti mandiri, reflektif,
kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut akan
memengaruhi seorang guru dalam pengambilan keputusan sesuai dengan situasi yang
dihadapi, dengan mempertimbangkan 3 prinsip dalam pengambilan keputusan.
Selain
itu, nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri kita akan muncul dalam
bentuk karakter pribadi kita. Seseorang pemimpin yang berkarakter baik akan
mampu menghasilkan keputusan-keputusan yang baik pula. Dengan kata lain,
karakter seorang pemimpin akan berbanding lurus dengan prinsip-prinsip yang
akan digunakannya dalam mengambil keputusan.
3. Bagaimana materi pengambilan keputusan
berkaitan dengan kegiatan coaching (bimbingan)
yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil?
Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut?
Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.
Dalam
materi pengambilan keputusan yang dipelajari memiliki hubungan erat dengan kegiatan
coaching (bimbingan) pada modul sebelumnya. Salah satu faktor yang sangat membantu dalam
pengambilan keputusan adalah keterampilan coaching. Sebagai
pendidik, guru harus memiliki keterampilan coaching. Selama proses
pembelajaran, pendampingan dalam pengujian pengambilan keputusan melalui
kegiatan coaching (bimbingan) yang dilakukan
oleh fasilitator saya rasakan sangat efektif dalam membantu pemahaman
saya.
Pada
proses coaching, kita membentuk coachee dalam menentukan atau mengambil
suatu keputusan, sedangkan pada modul ini kita merefleksikan apakah keputusan
yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan, menjadi win-win solution ataukah justru akan menimbulkan
masalah di kemudian hari. Dalam pembelajaran pengambilan keputusan ini, kita
diberikan panduan tentang 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujiaan
keputusan yang kita ambil.
Dengan
coaching, guru dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi murid dalam proses
pembelajaran. Sebagai coach yang baik, seorang guru memiliki harapan terhadap muridnya
sehingga dapat menjalankan seluruh tugas dan kewajiban yang diberikan di
sekolah dengan baik.
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan
menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu
keputusan khususnya masalah dilema etika?
Kemampuan
seorang guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat
memengaruhi dalam pengambilan keputusan. Dalam setiap pengambilan keputusan,
wajib berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan serta regulasi yang ada
dengan berpedoman pada 9 langkah pengambilan keputusan. Dengan kedua dasar
tersebut, kita dapat menganalisis sehingga dapat membedakan antara dilema etika
atau bujukan moral.
Kemampuan
seorang guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangatlah
penting, terutama dalam mengelola kasus dilema etika. Guru yang memiliki
kemampuan dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan memiliki
kesadaran diri untuk memahami perasaan, emosi dan nilai diri sendiri, memiliki
manajemen diri sehingga mampu mengelola emosi dan perilaku, memiliki kasadaran
sosial sehingga mampu memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang
lain, memiliki keterampilan berelasi sehingga dapat berkomunikasi dengan lebih
efektif, serta dapat mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Selanjutnya,
masalah yang terkait dilema etika akan diselesaikan dengan kepala dingin dan
hati yang tenang, sehingga pengambilan keputusan dapat berjalan sesuai dengan
langkah yang sistematis.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus
pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang
pendidik?
Ketika
seorang pendidik dihadapkan pada kasus-kasus yang berfokus pada masalah moral
dan etika, maka keputusan yang diambil akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang
dianutnya. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan
yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun
sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral,
agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung bermuara pada
kebenaran menurut versi pribadi.
Pembahasan
studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika akan semakin mengasah
empati dan simpati guru sebagai seorang pendidik, juga dapat melatih ketajaman
dan ketepatan dalam pengambilan keputusan. Pendidik yang telah terlatih akan
mempunyai rasa empati dan simpati yang baik, sehingga diharapkan mampu
mengidentifikasi dan memetakan paradigma dilema etika agar pengambilan keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran lebih bijak serta dapat dengan jelas membedakan
antara dilema etika ataukah bujukan moral. Keputusan yang diambil akan semakin
akurat dan menjadi keputusan yang dapat mengakomodir kebutuhan murid dan
menciptakan keselamatan dan kebahagian semua pihak berdasarkan nilai-nilai
kebenaran dan kebajikan jika nilai-nilai yang dianutnya adalah nilai-nilai yang
positif.
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat,
tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan
nyaman.
Pengambilan
keputusan yang tepat, tentunya akan berdampak positif pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Pengambilan keputusan yang
tepat harus dilakukan dengan cara yang tepat pula, disesuaikan dengan situasi
yang terjadi dengan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal, berpihak pada
murid dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan landasan tersebut, kita dapat
menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman, sehingga
murid-murid dapat belajar dengan baik dan dapat mengembangkan kompetensinya.
7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda
untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika
ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Tantangan
yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus yang sifatnya
dilemma etika adalah perasaan tidak enak yang timbul karena tidak dapat
memuaskan semua pihak. Pada dasarnya, pengambilan keputusan yang dilakukan
berlandaskan atas tiga prinsip penyelesaian dilema, yaitu Berpikir Berbasis
Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis
Peraturan (Rule-Based Thinking) ataukah Berpikir Berbasis Rasa
Peduli (Care-Based Thinking). Dengan berpedoman pada 4 paradigma, 3
prinsip serta mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan, saya dapat
meminimalkan perasaan tidak nyaman tersebut, sehingga keputusan yang saya ambil
dapat diterima oleh semua pihak.
8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang
kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana
kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang
berbeda-beda?
Adapun
pengaruh pengambilan keputusan yang saya ambil dengan pengajaran memerdekakan murid
-murid kita adalah terciptanya merdeka belajar. Dengan merdeka belajar, murid
bebas mencapai kesusksesan, kebahagiaan sesuai minat dan potensinya tanpa ada
paksaan dan tekanan dari pihak manapun. Hal ini diharapkan murid-murid akan
sukses dengan bidangnya masing-masing, bahagia karena sesuai dengan apa yang
diinginkannya dan bertanggungjawab akan apa yang menjadi pilihannya.
Penggunaan
model pembelajaran berdiferensiasi akan mampu mengakomodir kebutuhasn setiap
siswa sesuai dengan bakat dan keahliannya. Guru hanya sebagai fasilitator dan
pembelajaran terpusat pada siswa, dengan didukung pada penerapan secara
eksplisit maupun implisit KSE yang akan semakin memperkuat dan mempertajam
wujud nyata dalam memfasilitasi dan mengasah keterampilan sosial emosional
murid-murid kita.
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam
mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya?
Keputusan
yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran pasti akan membawa dampak, baik
jangka panjang maupun pendek bagi murid. Hal yang sudah kita putuskan dan kita
lakukan akan akan terekam menjadi suatu catatan dan akan menjadikan role model
tentang apa dan bagaimana kelak murid-murid berpikir dan bertindak dalam mengambil
keputusan di masyarakat dikemudian hari.
Gambaran
ini menjadi dasar bahwa pengambilan keputusan oleh seorang pendidik harus
tepat, benar dan bijak melalui analisis dan pengujian yang mendalam atas benar
salahnya. Pengujian dilakukan dengan menggunakan lima uji yaitu uji legal, uji
regulasi, uji instuisi, uji publikasi dan uji panutan atau uji idola akan
menjadikan pengambilan keputusan kita akurat dan teruji sehingga tidak
menyesatkan murid-murid.
10.
Apakah kesimpulan akhir yang
dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan
modul-modul sebelumnya?
Adapun
kesimpulan akhir yang saya peroleh dari pembelajaran materi ini dan
keterkaitannya dengan modul sebelumnya adalah bahwa pengambilan keputusan
merupakan suatu kompetensi atau skill yang harus dimiliki oleh guru sebagai
pendidik. Terkait dengan tugas dan fungsinya seorang guru, dalam membuat
keputusan harus tetap berlandaskan pada filosofi Ki Hajar Dewantara, karena
setiap keputusan yang diambil akan mewarnai pola pikir dan karakter murid.
Agar
keputusan yang diambil dapat memberikan kemanfaatan untuk banyak orang, mampu
mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (wellbeing) dan
dapat dipertanggung-jawabkan, maka keputusan yang diambil harus dilakukan
berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur yang tertata seperti
BAGJA. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil keputusan
dengan bijak, dengan mengedepankan nilai-nilai kebajikan yang telah menjadi
kesepakatan kelas. Guru mempunyai kewajiban untuk mengantarkan impian murid
menjadi insan yang cerdas dan berkarakter, menuju Profil Pelajar Pancasila yang
dalam perjalanannya banyak benturan yang sifatnya dilema etika dan bujukan
moral.
Dalam
mengawal impian ini, tentu banyak juga ditemui permasalahan baik yang sifatnya
dilema etika maupun bujukan moral. Untuk itu, diperlukan panduan sembilan
langkah dalam pengambilan keputusan dan pengujian agar keputusan yang diambil
berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar. Salah satu bentuk
merdeka belajar adalah diterapkannya pembelajaran berdiferensiasi. Dengan
pembelajaran berdiferensiasi, maka kebutuhan murid akan terpenuhi sesuai dengan
bakat, minat dan kecenderungan gaya belajarnya.
11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep
yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4
paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar
dugaan?
Saya
cukup memahami materi pada modul ini, sehingga pada proses penerapannya sangat
membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Adapun hal-hal yang menurut saya di
luar dugaan adalah ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya didasarkan
pada pemikiran dan pertimbangan semata, akan tetapi sangat diperlukan adanya
paradigma, prinsip, dan langkah-langkah pengujian pengambilan keputusan, agar
keputusan yang diambil tepat sasaran dan bermanfaat untuk orang banyak. Di samping
itu, secara personal, dalam pengambilan keputusan diperlukan satu sikap
keberanian dengan segala konsekuensinya.
12.
Sebelum mempelajari modul
ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam
situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda
pelajari di modul ini?
Sebelum
mempelajari modul ini, saya pernah mengambil keputusan dengan situasi
dilema etika, namun yang saya lakukan hanya sebatas pada pemikiran didukung
dengan beberapa pertimbangan. Saya sudah merasa aman bila keputusan yang saya
ambil sudah sesuai aturan dan tidak berdampak merugikan banyak orang. Setelah mempelajari
modul ini, saya menjadi lebih kaya akan pengetahuan
bahkan telah mempraktikkan, bagaimana cara pengambilan keputusan yang tepat
dengan menerapkan
analisa berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan..
13.
Bagaimana dampak
mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada
cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran
modul ini?
Adapun
perubahan terbesar yang saya alami yaitu:
a. Berhati–hati dalam
bertindak dan mengambil keputusan.
b. Mempunyai pola yang
teratur dalam menganalisa sebuah masalah
c. Meningkatnya empati
pada diri sendiri untuk memahami permasalahan yang terjadi pada orang lain
14. Seberapa penting mempelajari topik modul
ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Memelajari
Modul 3.1 ini bagi saya sangat penting dan bermakna, karena di manapun dan apapun
peran kita, pasti akan menjumpai permasalahan yang dituntut untuk mengambil
keputusan. Memelajari Modul 3.1 ini membuat saya berkembang menuju ke arah
yang lebih baik. Sebagai seorang pemimpin, saya harus mampu mengambil sebuah
keputusan terbaik dan bertanggung jawab
Demikian koneksi antar materi yang dapat saya
paparkan. Saya menyadari, masih banyak kekurangan di sana sini, sehingga saya
merasa sangat perlu untuk belajar lebih banyak. Untuk itu, dimohon masukan dan
saran konstruktif agar menjadi motivasi bagi saya untuk selalu tergerak belajar
dan melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk orang lain.

No comments:
Post a Comment